Setelah Rimba Terbakar karya Mustofa W Hasyim

 

Pengendalian Diri dalam Puisi “Setelah Rimba Terbakar” karya Mustofa W Hasyim


https://id.pinterest.com/pin/620441286190175673/

Manusia pasti mengalami perubahan dalam perjalanan hidupnya. Terdapat sebab dan akibat yang mengiringi perubahan pada setiap kehidupan manusia di muka bumi ini. Setiap perubahan tentunya memiliki makna yang begitu mendalam bagi kehidupan selanjutnya. Adakalanya, perubahan hidup muncul sebagai respons terhadap tantangan atau kesulitan yang memerlukan adanya adaptasi dan bekal ketahanan mental. Namun, adanya perubahan juga merupakan permulaan bagi seseorang untuk dapat meningkatkan kualitas hidup dan mencapai suatu tujuan. Dalam perjalannya, perubahan hidup tentunya tidak selalu berjalan dengan mulus tanpa adanya rintangan dan seringkali dapat melibatkan hal-hal yang tak dapat terduga. Seperti dalam puisi berjudul “Setelah Rimba Terbakar” karya Mustofa W Hasyim yang menggambarkan siklus perubahan, kemunduran dan kebangkitan.

 

Masih ada bunyi bara memudar

abu runtuh menimpa abu

angin berhembus tanpa berliku

seperti barisan berderap-derap

menggerakkan panji, mengibarkan

lagu gembira

 

Pada bait pertama dalam puisi ini dapat menggambarkan adanya sisa-sisa semangat atau kehangatan yang perlahan-lahan mulai menghilang. ini dapat merujuk pada pengalaman atau perasaan yang begitu mengebu-ngebu yang kini mulai memudar. Dan perasaaan yang begitu kuat lama-kelamaan hancur dan telah digambarkan pada larik “Abu runtuh menimpa abu”. Kemudian perasaaan yang telah menghilang tersebut mendatangkan sebuah perubahan. Perubahan yang datang memberikan kebahagiaan dan semangat baru di dalamnya.

Setiap manusia pada dasarnya memiliki berbagai macam emosi dalam dirinya. Emosi merupakan reaksi alami terhadap stimulus dan situasi dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa emosi dasar yang umumnya dialami oleh manusia yaitu bahagia, sedih, dan marah. Marah adalah respon emosional yang muncul ketika seseorang merasa terancam, dikecewakan, atau merasa bahwa hak-haknya terabaikan. Beberapa manusia kerap kali merasa kesulitan untuk mengendalikan kemarahan didalam diri mereka dan didalam puisi berjudul “Setelah Rimba Terbakar” Mustofa W Hasyim menggambarkan keadaan setelah seseorang melampiaskan kemarahannya dengan cara yang tidak baik.

 

Tak ada gunanya marah

pada tukang kebon

penyiram bibit baru

memaksakan bayang bayang

memanjang

melebar

sampai di ujung dermaga

penuh kata-kata asing

di telinga

atau di jiwa

 

“Tak ada gunanya marah pada tukang kebon” memberikan sebuah pesan bahwa mengekspresikan amarah atau kecewa kepada orang-orang merupakan hal yang tidak berarti. Ini bisa juga menjadi pesan bagi pembaca untuk tidak membuang tenaga untuk hal yang tidak berguna. Marah adalah emosi negatif yang harus dapat dikendalikan oleh tiap manusia. Mustofa W Hasyim juga menaruh pesan dalam puisinya bahwa ekspresi marah adalah ekspresi yang tidak ada gunanya ketika seseorang dalam amarahnya tidak dapat berkata dengan baik. Dalam menggunakan kata-kata kasar saat marah merupakan hal yang dangat tidak dianjurkan karena dapat memperburuk situasi dan menyebabkan konflik yang lebih mendalam.

Pengendalian emosi yang baik dapat mengurangi stress, meningkatkan Kesehatan mental, mempererat hubungan dan masih banyak lagi. Selain itu penting sekali bagi seseorang ketika sedang marah untuk membicarakan masalahnya dengan orang lain dengan begitu seseorang yang sedang dalam amarahnya tidak mengalami bimbang dalam hati dan pikirannya. Dan seseorang yang membagikan masalahnya dengan orang lain juga dapat memperoleh berbagai gagasan dari orang lain mengenai masalah yang dialaminya.

Komentar

Posting Komentar