Setelah Rimba Terbakar karya Mustofa W Hasyim
Pengendalian
Diri dalam Puisi “Setelah Rimba Terbakar” karya Mustofa W Hasyim
Manusia
pasti mengalami perubahan dalam perjalanan hidupnya. Terdapat sebab dan akibat
yang mengiringi perubahan pada setiap kehidupan manusia di muka bumi ini.
Setiap perubahan tentunya memiliki makna yang begitu mendalam bagi kehidupan
selanjutnya. Adakalanya, perubahan hidup muncul sebagai respons terhadap
tantangan atau kesulitan yang memerlukan adanya adaptasi dan bekal ketahanan
mental. Namun, adanya perubahan juga merupakan permulaan bagi seseorang untuk
dapat meningkatkan kualitas hidup dan mencapai suatu tujuan. Dalam perjalannya,
perubahan hidup tentunya tidak selalu berjalan dengan mulus tanpa adanya
rintangan dan seringkali dapat melibatkan hal-hal yang tak dapat terduga.
Seperti dalam puisi berjudul “Setelah Rimba Terbakar” karya Mustofa W Hasyim
yang menggambarkan siklus perubahan, kemunduran dan kebangkitan.
Masih ada bunyi bara memudar
abu runtuh menimpa abu
angin berhembus tanpa berliku
seperti barisan berderap-derap
menggerakkan panji, mengibarkan
lagu gembira
Pada
bait pertama dalam puisi ini dapat menggambarkan adanya sisa-sisa semangat atau
kehangatan yang perlahan-lahan mulai menghilang. ini dapat merujuk pada
pengalaman atau perasaan yang begitu mengebu-ngebu yang kini mulai memudar. Dan
perasaaan yang begitu kuat lama-kelamaan hancur dan telah digambarkan pada
larik “Abu runtuh menimpa abu”. Kemudian perasaaan yang telah menghilang
tersebut mendatangkan sebuah perubahan. Perubahan yang datang memberikan
kebahagiaan dan semangat baru di dalamnya.
Setiap
manusia pada dasarnya memiliki berbagai macam emosi dalam dirinya. Emosi
merupakan reaksi alami terhadap stimulus dan situasi dalam kehidupan
sehari-hari. Ada beberapa emosi dasar yang umumnya dialami oleh manusia yaitu
bahagia, sedih, dan marah. Marah adalah respon emosional yang muncul ketika
seseorang merasa terancam, dikecewakan, atau merasa bahwa hak-haknya
terabaikan. Beberapa manusia kerap kali merasa kesulitan untuk mengendalikan
kemarahan didalam diri mereka dan didalam puisi berjudul “Setelah Rimba
Terbakar” Mustofa W Hasyim menggambarkan keadaan setelah seseorang melampiaskan
kemarahannya dengan cara yang tidak baik.
Tak ada gunanya marah
pada tukang kebon
penyiram bibit baru
memaksakan bayang bayang
memanjang
melebar
sampai di ujung dermaga
penuh kata-kata asing
di telinga
atau di jiwa
“Tak
ada gunanya marah pada tukang kebon” memberikan sebuah pesan bahwa
mengekspresikan amarah atau kecewa kepada orang-orang merupakan hal yang tidak
berarti. Ini bisa juga menjadi pesan bagi pembaca untuk tidak membuang tenaga
untuk hal yang tidak berguna. Marah adalah emosi negatif yang harus dapat
dikendalikan oleh tiap manusia. Mustofa W Hasyim juga menaruh pesan dalam
puisinya bahwa ekspresi marah adalah ekspresi yang tidak ada gunanya ketika
seseorang dalam amarahnya tidak dapat berkata dengan baik. Dalam menggunakan
kata-kata kasar saat marah merupakan hal yang dangat tidak dianjurkan karena
dapat memperburuk situasi dan menyebabkan konflik yang lebih mendalam.
Pengendalian
emosi yang baik dapat mengurangi stress, meningkatkan Kesehatan mental,
mempererat hubungan dan masih banyak lagi. Selain itu penting sekali bagi
seseorang ketika sedang marah untuk membicarakan masalahnya dengan orang lain
dengan begitu seseorang yang sedang dalam amarahnya tidak mengalami bimbang
dalam hati dan pikirannya. Dan seseorang yang membagikan masalahnya dengan
orang lain juga dapat memperoleh berbagai gagasan dari orang lain mengenai
masalah yang dialaminya.

tulisannya baguss!
BalasHapus